cover

Almaty, Dari Sana Apel Berasal (Bagian 2)

Beranda

Almaty, Dari Sana Apel Berasal (Bagian 2)

Almaty, Dari Sana Apel Berasal (Bagian 2)

Risal Wiratanya

25 April 2025

Almaty sangat memanjakan penduduknya. Bus kota listrik menjangkau seluruh wilayah Almaty dan kawasan urban. Pembayarannya harus menggunakan aplikasi ONAY yang saldonya dapat diisi ulang. Selain itu, sepeda listrik tersedia di berbagai tempat. Siapa pun boleh menggunakannya setelah membayar dengan kode QR. Untuk jarak dekat, sepeda listrik sangat berguna di tengah kemacetan lalu lintas. Maklum, seperti kota-kota besar di Asia lainnya, lalu lintas Almaty juga macet pada pagi dan sore hari menjelang malam.
Bus kota dan sepeda listrik. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)

Bus kota dan sepeda listrik. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)

Sementara, transportasi yang murah dan praktis adalah metro. Sekali jalan, harga tokennya 80 Tenge (Rp 2.500). Lebih murah daripada Transjakarta. Penumpang dijamin tidak akan tersesat karena di sana baru ada satu jalur metro (kalah dari kota Tashkent yang sudah punya beberapa jalur). Sebagaimana khas Uni Soviet, stasiun metro di Almaty berada jauh di bawah tanah karena juga berfungsi sebagai bungker dalam perang nuklir.
Metro Almaty yang modern. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)

Metro Almaty yang modern. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)

Semua stasiun metro dihiasi mural yang sesuai dengan namanya. Jika Anda tidak tahu lagi harus ke mana, lakukanlah tur stasiun metro. Beli token dan turunlah di beberapa stasiun yang interiornya indah, misalnya di Baikonur yang bercorak luar angkasa karena merupakan tempat peluncuran roket milik Kazakhstan yang disewa Rusia. Sekali lagi, berhati-hatilah di dalam metro, terutama jika penuh sesak. Waspada terhadap copet.
Stasiun metro Almaty yang indah menjadi tempat berfoto. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)

Stasiun metro Almaty yang indah menjadi tempat berfoto. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)

Misa Agak Laen

Jika melewati hari Minggu di negeri jiran, penulis menyediakan waktu untuk mengikuti misa di gereja Katolik setempat. Meskipun lebih sering tidak mengerti bahasanya (kecuali Alleluya), tetapi urutan liturginya, kan, sama. Tinggal mengira-ngira saja ini sudah masuk liturgi apa. 
Nah, di Almaty ini hanya ada satu gereja Katolik: Katedral Tritunggal Mahakudus. Gereja kecil rapi dan nyaman, interiornya dihiasi berbagai ikon, dan di belakang altar tergantung salib Taize khas Fransiskan. Pada hari Minggu, ada tiga kali misa: pukul 10.30, 13.00, dan 18.00. Nah, karena bangun kesiangan (maklum, waktu Almaty dua jam lebih lambat daripada Jakarta), penulis memutuskan untuk ikut misa pukul 13.00. 
Ketika memasuki gereja, penulis terkejut karena suasana misa sangat berbeda dan dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti! Rupanya, misa siang itu dikhususkan untuk jemaat Gereja Ortodoks Yunani! Waduh, bagaimana ini? Sudah datang terlambat, masa pulang lagi? Jadilah penulis mengikuti misa “agak laen” ini… wkwkwk. Liturgi ritus Yunani ini panjang sekali, berkali-kali dilakukan pendupaan dan tanda salib Ortodoks (seperti dalam Misa Tridentin Katolik). Waktu komuni, tubuh Kristus yang diberikan adalah secuil potongan roti gandum yang dicelupkan ke dalam anggur, lalu disuapkan ke dalam mulut jemaat dengan menggunakan perangkat seperti batang es krim. Seusai misa, penulis menyempatkan diri untuk minta berkat kepada pastornya, sambil menjelaskan ketidaktahuan bahwa itu bukan ritus Katolik Roma. Setelah diterjemahkan oleh diakonnya, Pastor Oleh dari Ukraina–yang tidak dapat berbahasa Inggris itu–malah tertawa dan berkomentar, “It’s okay, no problem, we are all Christians”. Beliau senang sekali mengetahui ada jemaat “agak laen”, karena selama ini belum pernah bertemu dengan orang Indonesia di sini.
Almaty dikenal sebagai “kota apel” karena mudah menjumpai pohon apel. Ada yang di tepi jalan, taman, dan pekarangan rumah penduduk. Arti kata Almaty sendiri adalah “Mbah Apel”. Konon, apel berasal dari Kazakhstan dan tersebar di Asia Kecil oleh burung dan beruang yang berkelana, jauh sebelum manusia dapat membudidayakan buah ini. 
Pada abad ke-20, pernah dilakukan penelusuran terhadap gen apel yang ternyata berasal dari apel yang tumbuh di Almaty. Berdasarkan penelitian lebih lanjut, para pakar mengambil kesimpulan bahwa asal-muasal apel itu adalah spesies apel liar yang tumbuh di daerah Pegunungan Tian Shan, Kazakhstan. Oleh karena itu, Almaty sangat bangga dikenali dengan “kota asal apel”. 
Ada pula yang bergurau bahwa Taman Firdaus sebenarnya ada di Almaty, sebab di situlah Adam dan Hawa memakan buah terlarang yang sering digambarkan sebagai “buah apel”. Maka, penulis menyempatkan diri membeli apel di sebuah Stolichny (“Superindo”-nya Almaty) dekat apartemen tempat menginap. Sudah membayangkan akan merasakan apel yang manis, eh, ternyata rasanya cenderung masam. Waduh, kalau tahu seperti ini rasanya, pastilah Bu Hawa komplain pada si ular! Ya sudah, nikmati sajalah.
Apel di swalayan. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)

Apel di swalayan. (Dok Pribadi) (Risal Wiratanya)