cover

Marilah Kita Pergi ke Betlehem

Beranda

Marilah Kita Pergi ke Betlehem

Marilah Kita Pergi ke Betlehem

Romo Aloysius Yus Noron

25 April 2025

Salam dalam kasih Kristus
Bapak/ibu, saudara-saudari, orang muda dan anak-anak terkasih,
Perayaan Natal selalu membawa suasana gembira dalam kehidupan manusia. Entah karena dirayakannya selalu pada akhir bulan Desember atau sudah memasuki liburan panjang akhir tahun. Dalam benak kita sudah tergambar rencana pergi liburan bersama keluarga atau bersama rekan-rekan kerja maupun komunitas. Mereka yang punya dana lebih tentu bisa bepergian jauh. Itulah gambaran momen kebahagiaan. Sebagai umat beriman, Natal menjadi sebuah peristiwa dan peringatan yang menumbuhkan iman kepada Allah. Allah yang hadir nyata dalam diri seorang bayi, lahir di dunia untuk membangun dunia baru.
Pada tahun 2024 ini para pimpinan Gereja-gereja di Indonesia mengajak umat kristiani untuk menghayati kelahiran Yesus Kristus bersama para gembala dengan tema: “Marilah  kita pergi ke Betlehem”. Ajakan malaekat Tuhan itu menyentuh hati para gembala. Mereka lantas Bersama-sama menuju sebuah tempat yang ditunjukkan. Dalam jamannya, para gembala dinilai sebagai orang yang malas, tak memiliki kepedulian dengan orang lain bahkan tidak dianggap sebagai warga yang baik dan berguna. Namun mereka tetap setia menggembalakan dombanya. Kesetiaan mereka digunakan oleh penulis injil bahwa walaupun mereka dinilai sebagai orang tak berguna, tetapi para gembala mau dan tergerak hatinya terhadap ajakan malaekat Tuhan.
Para pimpinan Gereja membuka ajakan untuk kita semua agar mencari Yesus, Sang Mesias. Bukan ajakan ke kota Betlehem, tetapi ajakan untuk melihat Sang Mesias yang  lahir dalam dunia ini. Kelahirannya menarik karena Ia bukan hanya untuk orang-orang yang selama ini setia dan hidup dalam kecukupan, melainkan juga buat orang-orang yang selama ini kurang mendapat perhatian, orang yang tersingkir, miskin, pemalas dan tak berguna. Kehadiran Sang Mesias sebagai Juruselamat ditujukan untuk semua orang tanpa kecuali.
Para gembala Gereja menyadari bahwa orang jaman kini tidak mudah tergerak untuk melihat kehadiran Yesus Kristus. Secara ritual mungkin banyak yang menghadiri perayaan, namun apakah orang merasakan kelahiran Yesus Kristus dalam seluruh kehidupannya. Kesetiaan para gembala di padang gurun waktu itu hendaknya membuka hati dan menyadarkan umat manusia bahwa kelahiran Yesus membuka harapan baru akan hidup yang dipenuhi dengan kemurahan dan kasih.
Peristiwa Natal yang setiap tahun kita rayakan merupakan sebuah penanda bahwa kita disadarkan akan Allah yang tinggal bersama kita. Allah berjalan bersama kita, hidup bersama kita dan membarui hidup kita. Perjumpaan kita dengan Allah dalam diri Yesus yang lahir sebagai manusia menggerakkan kita untuk membangun ikatan persaudaraan kita dengan orang lain, termasuk mereka yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Perhatian kita pada mereka yang lemah dan miskin tercermin dalam perhatian Allah pada kita sebagai miskin di hadapanNya. Allah yang mencintai orang miskin dan lemah terlihat dari kelahiran-Nya di palungan dan kehadiran para gembala.
Keuskupan Agung Jakarta mengajak seluruh umatnya untuk berbagi dan memberi perhatian pada mereka yang lemah dan miskin. Maka, perayaan Natal harus menggerakkan kita untuk mencintai, berbagi kasih dan membela mereka yang senantiasa berharap pada Allah. Kehadiran kita dalam diri yang lemah dan miskin menjadi saksi akan Allah yang membela dan Allah mencintai orang lemah dan miskin.
Mari kita bangun bersama kehidupan yang diberikan Allah kepada kita untuk dikembangkan agar bertumbuh bersama tanpa membeda-bedakan status social, saling bergandengan tangan dan berbagi kepada yang lemah miskin.
Selamat merayakan Natal dan menyambut tahun baru 2025
Salam hormat,
Rm. A. Yus Noron, Pr.