Ooohh perawan suci, saat sepi sendiri samar-samar telingamu mendengar ucapan: “Salam, hai engkau yang dikaruniai Tuhan menyertai engkau”, ternyata dalam keheninganmu datang utusan dari Sang Pencipta untuk memberitakan kabar baik bahwa engkau akan mengandung dan melahirkan Putera Allah, DIA lah sumber kebijaksanaan Sabda Bapa dari Surga, Sabda ini akan menjadi manusia dengan perantaraanmu. Oooh sang perawan murni sehingga DIA yang berkata “Aku ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Aku” dapat juga berkata “Aku dilahirkan dan datang dari Allah”.
“Pada mulanya adalah Sabda dan Sang Sabda ada bersama-sama dengan Allah dan Sabda itu adalah Allah” bersemayam dalam terang yang tidak dapat dihampiri dan Tuhan dapat berkata dari semula “Pemikiran-Ku itu pemikiran damai, bukan kesedihan” tetapi pemikiran-Mu itu ada di dalam diri-Mu sendiri dan kami tidak tahu apa yang Engkau pikirkan, sebab siapa yang tahu akan pemikiran Tuhan dan siapa yang menjadi penasihat-Nya?
Pemikiran damai turun menjadi karya damai yaitu Sabda menjadi manusia dan sekarang diam di antara kita, DIA diam di hati kita semua dengan perantaraan iman. DIA diam dalam ingatan dan pemikiran, DIA akan masuk dalam angan-angan kita. Sebab bagaimana orang dapat memikirkan tentang Allah kalau kita tidak lebih dulu membuat gambaran tentang DIA di dalam hati kita? Dulu DIA ada di luar pemikiran kita dan tidak terjangkau, DIA sama sekali tidak kelihatan dan di atas akal budi kita tetapi sekarang DIA ingin dimengerti, dilihat dan dipikirkan.
Tetapi bagaimana? Mungkin kita bertanya demikian, jawabannya adalah DIA yang berbaring di dalam palungan ada di pangkuan seorang perawan, DIA yang berkhotbah di bukit, DIA yang berkanjang di dalam doa sepanjang malam, DIA yang bergantung pada salib, pucat maut pada wajah-Nya seperti seorang yang terlupakan, DIA yang mengalahkan kekuasaan neraka dan pada hari yang ketiga bangkit dan kemudian menunjukkan bekas-bekas paku kepada para murid-Nya menandakan KEMENANGAN-NYA dan akhirnya di hadapan para murid-Nya DIA naik ke Surga.
Apakah di sini ada sesuatu yang tidak dapat direnungkan dengan nyata? Penuh cinta? Penuh bakti? Kalau aku merenungkan salah satu dari peristiwa ini, aku merenungkan Tuhan yang menjadi Juru Selamatku. Dalam semuanya itu aku menemukan Tuhanku, DIA yang adalah segala-galanya bagiku. Aku sebut bijaksanalah orang yang merenungkan peristiwa-peristiwa ini. Aku menganggap itu pengetahuan untuk mengenang keharuman, harum mewangi yang diperoleh Sang Perawan Suci yakni Bunda Maria dari Surga ditumpahkan secara leluasa kepada kita semua.