Tulisan ini diangkat dari kisah nyata. Kejadian ini sudah agak lama berselang namun selalu teringat karena unik, menarik, dan semoga dapat menjadi renungan yang bermanfaat bagi para pembaca Zaitun edisi ini.
Pada suatu waktu yang lalu, saya menemani seorang teman menjual rumah. Rumah yang dibelinya untuk investasi kini dijual karena dianggapnya sudah cukup menguntungkan. Pada hari penandatanganan akta, rekan kerja yang menyiapkan dokumen berkata kepada saya “Pak, nama pembelinya, di KTP nya tercantum…David Goliat” sambil tersenyum. Mendengar hal ini, setengah percaya, bercampur perasaan ingin tahu, lucu, unik - Apa kiranya yang ingin dipesankan orangtua kepada anaknya dengan memberi nama demikian. Pastinya pesan yang baik dan mendalam.
Nama David adalah nama yang populer. Di sekolah sering menemukan teman bernama David. Mengambil nama Raja Israel yang terkenal: Raja Daud. Raja Daud adalah figur yang sangat terkenal, terlebih kisah pertempuran Daud dan Goliat.
Pengalaman bertemu seseorang bernama David Goliat menjadi semakin menarik, karena rekan kerja yang berkata kepada saya itu - seseorang yang saya kenal baik, dia bukan beragama Kristen, baik Kristen Katolik ataupun Kristen Protestan, juga bukan dari agama samawi (serumpun dengan Kristen, yaitu Kristen, Islam dan Yahudi). Dia juga tidak bersekolah di sekolah Kristen. Tapi ia tahu nama David dan Goliat. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa kisah David dan Goliat dikenal luas serta lintas agama. Dan memberitahukan kepada saya sambil tersenyum, hal ini menandakan ia tahu kedua nama itu memiliki karakter yang berlawanan. Saya bersekolah di sekolah Katolik dari sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Guru agama menceritakan kisah Daud beberapa kali. Tidak ingat berapa kali pastinya. Tapi saya yakin sudah beberapa kali diceritakan, belum termasuk tulisan yang saya baca. Walau sering mendengarkan dan membaca, namun yang mendominasi dalam ingatan saya adalah Daud menang atas Goliat dengan menggunakan ketapel dan tidak lebih dari itu.

Ilustrasi Ketapel Daud (Google)
Kisah Daud dan Goliat ini, ketika saya baca lagi dengan lebih seksama untuk menyiapkan pengajaran kepada para calon Baptis, memberikan pemahaman yang baru dan menarik. Ditambah pengalaman bertemu dengan seseorang yang bernama David Goliat, seolah-olah mengingatkan (lebih tepatnya menyadarkan) bahwa Kitab Suci sungguh memberikan pengajaran yang terbaik.
Mari kita lihat bersama:
Rajin
Daud adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Sejak kecil, Daud sudah menggembala domba dan ia bekerja dengan rajin.
“Allah mengutus Samuel untuk mencari pengganti Raja Saul. Ketika Samuel ke rumah ayahnya Daud, saat itu Daud sedang tidak di rumah, tapi sedang menggembala domba. Ketujuh kakaknya sudah ada di rumah.” (1 Sam 16:1)
Pemain kecapi yang pandai
“Pada saat Raja Saul diganggu oleh roh yang menyusahkannya, hamba-hamba Saul menyarankan untuk memanggil Daud yang pandai bermain kecapi. Kecapi yang dimainkan Daud menyingkirkan roh yang menyusahkan.” (1 Sam 16:14, 18)
Kita lihat disini, Daud dikenal sebagai pemain kecapi yang pandai. Lalu datang kesempatan untuk bertemu dengan Raja. Kalau seseorang sampai direkomendasikan kepada raja/ pembesar/penguasa, pastinya kepandaian memainkan musiknya begitu mahir. Tapi lebih jauh lagi dapat kita lihat. Orang yang mahir bermain musik bisa jadi tidak hanya satu. Tapi kok Daud yang direkomendasikan? Kita lihat lebih lanjut kualitas pribadi Daud yang membuat orang menyukai pribadinya.
Anak yang taat, pekerja yang bertanggungjawab, berteman
“Daud disuruh ayahnya mengantarkan makanan kepada kakak-kakaknya. Daud bangun pagi-pagi dan menitipkan dombanya kepada seorang penjaga. Daud pergi dengan bawaannya seperti yang diperintahkan ayahnya kepadanya.” (1 Sam 17:17)
Penggembala domba yang terampil dan berani
“Setiap kali singa atau beruang datang menerkam domba dari kawanannya, Daud mengejar, memukulnya, dan melepaskan dombanya.” (1 Sam 17:34)
Rendah hati, bukan aku yang hebat tapi Tuhanku
“Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan cakar beruang akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (1 Sam 17:37)
Cerdik, mengenali kekuatan dirinya dan kelemahan lawan
“Tidak mau memakai baju zirah/baju perang, tidak membawa pedang, karena membuatnya menjadi lambat. Membawa tongkat, batu dan umban (sejenis ketapel untuk melontarkan batu). Mengandalkan kecepatan. Daud mengambil sebuah batu dan mengumbannya, sehingga kenalah dahi Goliat. Batu itu menghujam di dalam dahi Goliat dan ia pun jatuh dengan muka ke tanah. Daud mengambil pedang Goliat dan membunuhnya.” (1 Sam 17:39, 49-51)
Alhasil, Daud mengalahkan Goliat.
Daud terbiasa melawan singa, yang berkaki empat, gesit, bergigi tajam, mengincar domba dengan datang mengendap dan biasanya datang bergerombolan; Daud juga terbiasa melawan beruang yang kuat. Kemampuan Daud menggunakan batu dan umban juga sudah terasah, sudah mahir. Sementara Goliat, hanya berkaki dua, lamban karena memakai baju zirah yang berat, tombak yang berat (1 Sam 17:5-7).
Daud memang sudah siap menghadapi Goliat dan pertempuran itu adalah kesempatan Daud berkontribusi kepada bangsa dan rajanya, dan sekaligus membuktikan kemampuannya (Bahasa jawanya: Preparation meets opportunity).
Dapat kita bayangkan, apa jadinya kalau Daud malas menggembalakan domba, hanya duduk di rumah, atau waktunya tersita dengan gadget, drakor, atau kelekatan apapun itu. Ada risiko besar ia belum mahir menggunakan batu dan umban, belum paham caranya mengalahkan singa dan beruang, badannya kaku karena kurang gerak dan kurang vitamin D karena jarang kena sinar matahari, dan sebagainya.
Padahal ada kesempatan yang menanti kita di masa depan. Kesempatan yang disediakan Tuhan. Orang lain tidak melihatnya sebagai kesempatan. Tapi Tuhan membuka mata kita dan akan memampukan kita menggunakan kesempatan itu.
Ternyata kisah Daud yang sudah sering kita dengar pada waktu dulu, tetap relevan di masa kini dan menjadi makna yang lebih mendalam jika kita mempelajarinya dengan seksama. “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Tim 3:16)
Mari kita ingat kembali kisah di Kitab Suci yang kita sukai atau yang kita ingat. Lalu cari ayatnya (googling aja pasti langsung ketemu); baca dengan seksama dan tandai kata-kata atau kalimat yang menarik perhatian; baca seluruh rangkaian kisah dengan seksama; renungkan apa yang diajarkan serta relevan untuk kita di jaman sekarang ini; mohon bantuan Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita.”Ada kesempatan yang menanti kita di masa depan. Kesempatan yang disediakan Tuhan. Orang lain tidak melihatnya sebagai kesempatan. Tapi Tuhan membuka mata kita dan akan memampukan kita menggunakan kesempatan itu.” Tuhan memberkati. Amin.