cover

Misa Awal Tahun: Menapaki Tahun Baru Bersama Santa Maria Bunda Allah

Beranda

Misa Awal Tahun: Menapaki Tahun Baru Bersama Santa Maria Bunda Allah

Misa Awal Tahun: Menapaki Tahun Baru Bersama Santa Maria Bunda Allah

Adityo Nugroho

7 Februari 2026

Perayaan Tahun Baru dalam Gereja Katolik bukan sekadar pergantian angka kalender, melainkan momentum iman untuk memulai kembali perjalanan hidup bersama Allah. Pada tanggal 1 Januari, Gereja secara khusus merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, mengajak umat untuk menapaki tahun yang baru dengan harapan, iman, dan kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan Tuhan.
Gelar Bunda Allah diberikan kepada Santa Maria karena ia adalah satu-satunya manusia yang melahirkan Yesus Kristus, Putra Allah yang mulia. Pengakuan iman ini ditegaskan secara resmi dalam Konsili Efesus tahun 431 Masehi, yang menetapkan bahwa Maria sungguh adalah ibu dari Allah yang menjadi manusia. Penegasan ini sekaligus mengajarkan iman Gereja bahwa Yesus Kristus adalah satu pribadi dengan dua kodrat, sungguh Allah dan sungguh manusia, yang hadir untuk menyelamatkan umat manusia.
Santa Maria adalah manusia biasa yang dikuduskan secara istimewa oleh Allah karena kesetiaannya. Kekudusan Maria tidak muncul secara instan, melainkan dibentuk melalui perjalanan hidup yang penuh tantangan. Sejak awal kehamilannya, Maria telah menghadapi berbagai cobaan iman. Namun, ia tetap setia menjalani kehendak Allah, bahkan hingga berdiri di kaki salib saat Yesus, Putranya, wafat. Kesetiaan inilah yang menjadikan Maria teladan iman yang agung bagi seluruh umat beriman.
Romo memberi berkat di tengah-tengah umat. (KOMSOS / Kiecuandy)

Romo memberi berkat di tengah-tengah umat. (KOMSOS / Kiecuandy)

Dalam khotbah Misa Awal Tahun ini, Pastor Kepala (Pastor Paroki) Gereja Santo Matias Rasul, Kosambi Baru, Jakarta Barat, RD. Aloysius Yus Noron juga menceritakan tentang kisah Daud dan Goliat yang dihadirkan sebagai refleksi. Dalam kisahnya, Daud tidak langsung dimuliakan; ia harus melalui proses panjang yang penuh pengorbanan, kesetiaan, dan keberanian. Bahkan setelah kemenangannya, Daud mengalami penolakan dan penderitaan sebelum akhirnya diangkat derajatnya. Proses ini mengajarkan bahwa kemuliaan dan berkat tidak datang secara instan, melainkan melalui kesetiaan dalam perjalanan iman.
Memasuki tahun 2026, umat diajak untuk bersyukur atas perjalanan hidup di tahun sebelumnya, sebagai bukti bahwa Allah selalu berjalan bersama kita. Di tahun yang baru ini, Gereja mengajak kita untuk kembali menata hidup dengan lebih baik—setia dalam iman, tekun dalam doa, dan bertumbuh dalam kasih. Dengan meneladani Santa Maria Bunda Allah, semoga kita melangkah dalam cahaya pengharapan, menerima berkat Tuhan, dan menjalani tahun yang baru dengan hati yang penuh syukur dan iman yang teguh.