Misa Minggu Palma 2025: "Biarlah Kasih dan Pengampunan Menemukan Jalan-Nya"
Misa Minggu Palma 2025: "Biarlah Kasih dan Pengampunan Menemukan Jalan-Nya"
Sonny Sutanto
15 Desember 2025
Minggu Palma tahun ini terasa lebih ramai dari tahun sebelumnya. Hal ini ditandai dengan penuhnya gedung gereja sehingga Gedung Serbaguna (GSG) Maria Ratu Rosari harus dibuka. Ramainya umat dari berbagai wilayah yang memenuhi halaman gereja menunjukkan antusiasme mereka untuk merayakan salah satu momen penting perayaan liturgi Gereja, yaitu Pekan Suci.
Dalam perayaan Minggu Palma ini, Ekaristi dipimpin oleh RD Patrick Slamet Widodo. Warna liturgi merah yang mendominasi, mengingatkan umat yang hadir akan kemartiran Yesus yang siap menyambut penderitaan demi keselamatan umat manusia.
Sejak setengah jam sebelum misa dimulai, umat terlihat sudah memenuhi halaman parkir gereja. Beberapa di antara mereka mengenakan pakaian dengan nuansa merah dan menambah semarak Minggu Palma. Dengan penuh semangat, mereka bersiap mengikuti perarakan walaupun matahari mulai bersinar terik.
Setelah bacaan dan homili singkat dari Romo Patrick, perarakan untuk masuk gereja pun dimulai. Lagu "Yerusalem, Lihatlah Rajamu" menggema melalui suara umat yang antusias, menambah suasana sakral saat mereka melangkah memasuki gedung gereja. Bagi umat yang hadir, perarakan Palma ini bukan hanya sekadar tradisi liturgi tahunan, melainkan juga ungkapan dan inspirasi iman umat dalam menyambut kehadiran Yesus yang memasuki Yerusalem.
Antusiasme umat saat Misa Minggu Palma. (KOMSOS/Bernadus Galuh)
Setelah perarakan, misa dilanjutkan dengan suasana khidmat, dimulai dari doa pembuka hingga pembacaan pasio. Dalam homilinya, Romo Patrick pertama-tama berpesan untuk tidak terpengaruh menyebarkan ungkapan kebencian kepada saudara-saudari kita dari Gereja lain yang juga merayakan Palma.
Pembacaan pasio oleh petugas. (KOMSOS/Bernadus Galuh)
“Biarlah kebenaran menemukan jalannya dan janganlah kita justru membenci mereka lewat komen negatif di media sosial,” ungkapnya.
Setelah itu, Romo Patrick menyampaikan refleksi mendalam mengenai tema penyerahan diri. Ia mengajak umat untuk merenungkan makna di balik kedatangan Yesus ke Yerusalem. Ia menekankan bahwa meskipun Yesus sempat disambut sebagai pahlawan dengan sorak-sorai, pada saat yang sama, Ia sedang menyerahkan diri-Nya dan melaksanakan kehendak Bapa untuk menebus umat manusia.
“Jalan memasuki Yerusalem adalah jalan penyerahan diri,” ungkap Romo Patrick.
Yesus bisa saja memilih jalan lain untuk wafat-Nya, tetapi Ia memilih untuk masuk ke Yerusalem dan wafat dengan cara disalib. Jalan yang Yesus pilih ini juga merupakan pengingat bagi umat untuk bisa rendah hati dan mengosongkan diri, agar rencana keselamatan Allah dapat terlaksana dalam hidup kita. Pesan ini sangat relevan bagi banyak umat yang menghadapi tantangan dan pergumulan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain tema penyerahan diri, Romo Patrick juga menyoroti pentingnya pengampunan. Dalam berbagai contoh hidup sehari-hari, ia mengajak umat untuk merenungkan pengalaman menyakitkan yang mungkin dialami seseorang saat disakiti atau dikhianati, seperti apa yang dialami Yesus.
“Sering kali kita terluka justru oleh orang-orang terdekat. Meskipun demikian, luka-luka ini mengingatkan kita untuk menyerahkannya kembali kepada pengorbanan Yesus. Mari kita menyatukan seluruh luka dan sengsara kita bersama Yesus yang sengsara dan tersalib,” tuturnya.
Refleksi Romo Patrick ini mendorong umat untuk memahami arti pengorbanan Yesus, sekaligus membuka ruang dalam hati mereka untuk memberi dan menerima pengampunan. Umat tampak merenungkan segala pesan yang ada dengan penuh keheningan, mengisi hati mereka dengan harapan dan tekad yang baru untuk hidup dalam kasih. Momen Minggu Palma ini menjadi sangat berarti, terutama saat umat bersiap menuju perayaan yang lebih besar di Trihari Suci yang akan datang.
Ketika misa mendekati akhir, lagu-lagu pujian dinyanyikan dengan penuh semangat. Umat juga terlihat merasa terberkati dan terinspirasi untuk menjalani hari-hari selanjutnya dengan semangat yang baru. Selama perayaan, terlihat juga relasi antar umat dan panitia yang kental, saling mendukung, dan berbagi kebahagiaan dalam iman. Momen-momen indah ini meneguhkan komitmen mereka untuk terus bersama dalam perjalanan iman.
Minggu Palma tahun 2025 ini menjadi momentum spiritual yang menciptakan ikatan yang lebih kuat di antara umat. Dengan semangat bahwa setiap individu memiliki panggilan untuk mencintai dan mengasihi, mereka dikuatkan untuk meneruskan perjalanan iman masing-masing.
Mengakhiri perayaan, kami mengucapkan selamat memasuki Pekan Suci dan menyambut Trihari Suci yang akan datang. Semoga setiap langkah yang diambil oleh umat membawa mereka lebih dekat dengan Tuhan, menginternalisasikan pengorbanan dan semangat pengampunan dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua diundang untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari pengorbanan Yesus. Dengan penghayatan ini, umat diharapkan dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan mereka.