cover

Renungan Ibadat Jumat Agung 2025: Cinta Seorang Ibu di Bawah Salib

Beranda

Renungan Ibadat Jumat Agung 2025: Cinta Seorang Ibu di Bawah Salib

Renungan Ibadat Jumat Agung 2025: Cinta Seorang Ibu di Bawah Salib

Adityo Nugroho

5 Januari 2026

Dalam keheningan Jumat Agung, Gereja Santo Matias Rasul, Kosambi Baru dipenuhi suasana yang syahdu dan penuh khidmat. Umat yang hadir larut dalam permenungan akan pengorbanan Yesus Kristus dalam ibadat pukul 17.30 WIB yang begitu menyentuh hati.
Ruangan gereja terasa teduh bukan karena cuaca mendung sore menjelang malam itu, melainkan karena kehadiran umat yang duduk rapat, bersatu dalam doa, penuh ketenangan, dan syukur. Heningnya liturgi, lantunan doa umat, dan iringan musik rohani menghadirkan suasana damai yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Paduan suara yang bertugas pada Ibadat Jumat Agung II, Jumat (18/4/2025). (KOMSOS/Andreas Ricky)

Paduan suara yang bertugas pada Ibadat Jumat Agung II, Jumat (18/4/2025). (KOMSOS/Andreas Ricky)

Semua terasa tentram di tengah lautan umat yang membanjiri gereja hingga area pelataran, seakan surga menurunkan ketenangan-Nya bagi setiap jiwa yang hadir, baik anak-anak, kaum muda, dewasa, dan lansia.
Dalam homilinya, Rm. Aloysius Yus Noron, Pr. mengajak umat merenungkan sosok Maria—ibu Yesus—yang setia berdiri di bawah salib anaknya. Betapa besar cinta dan keberanian yang dimiliki sosok ibu, yang diceritakan dalam kisah Bunda Maria.
Ia tidak panik, tidak memberontak, tidak menangis histeris atas kesusahan dan penderitaan yang menimpa putranya. Ia berdiri teguh, menyaksikan penderitaan putranya yang disiksa, dicaci, diludahi, hingga akhirnya disalib. Sebagai seorang ibu, Maria memiliki kekuatan luar biasa untuk tidak runtuh. Sebaliknya, ia hadir dengan tenang, menjadi sumber kekuatan bagi Yesus, bahkan di saat-saat paling kelam.
Romo Yus juga menekankan bahwa salib bukan sekadar simbol penderitaan, melainkan juga simbol cinta yang radikal. Yesus memilih jalan salib demi menyelamatkan umat manusia. Dalam proses itu, Maria tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian penting dari karya penyelamatan itu. Ia tetap setia, hingga Yesus menyerahkan nyawa-Nya dan saat momen Yesus mengangkat Maria sebagai ibu bagi murid-murid-Nya serta kita semua.
Momen ini tidak hanya menjadi refleksi tentang penderitaan Kristus, tetapi juga undangan bagi kita untuk menerima Maria dalam iman Katolik kita. Yesus memberikan teladan dan juga warisan rohani, yang diucapkan-Nya di saat-saat terakhir: "Hai Ibu, inilah anakmu."
Frater Yapin Sean dalam Penghormatan Salib, Jumat (18/4/2025). (KOMSOS/Andreas Ricky)

Frater Yapin Sean dalam Penghormatan Salib, Jumat (18/4/2025). (KOMSOS/Andreas Ricky)

Layaknya Yohanes, kita pun diundang untuk menerima Maria sebagai ibu rohani yang menemani kita dalam suka dan duka kehidupan, seperti saat Yesus berkata kepada muridnya: “Inilah Ibumu.”
Di akhir ibadat, umat berjalan meninggalkan gereja dengan hati yang penuh rasa syukur dan keheningan jiwa. Ada yang masih mengusap air mata, ada yang memeluk erat bayi yang sedang ditenangkannya, dan ada pula yang memandangi salib Yesus yang tertutup kain ungu dengan penuh pengharapan.
Namun, satu hal yang pasti: semua pulang dengan hati yang lebih teguh dalam iman Katolik, lebih hangat dalam kasih, dan lebih sadar akan arti pengorbanan dan kesetiaan antarsesama manusia.
Seorang umat berlutut dalam Ibadat Jumat Agung II pada Jumat (18/4/2025). (KOMSOS/Bernadus Galuh)

Seorang umat berlutut dalam Ibadat Jumat Agung II pada Jumat (18/4/2025). (KOMSOS/Bernadus Galuh)

Marilah dalam kehidupan sehari-hari, kita jadikan Maria sebagai teladan: setia, kuat, dan penuh kasih. Marilah kita menyambut warisan Yesus itu dengan rendah hati: menerima Maria sebagai ibu rohani dalam peziarahan iman kita di dunia.