Berjaga Bersama Kristus: Makna Tuguran bagi Umat Beriman
Berjaga Bersama Kristus: Makna Tuguran bagi Umat Beriman
Adityo Nugroho
10 Mei 2026
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, dipenuhi notifikasi, tuntutan pekerjaan, dan hiruk-pikuk tanpa henti—keheningan sering kali menjadi sesuatu yang langka. Namun justru dalam keheningan itulah, manusia menemukan ruang terdalam untuk berjumpa dengan Tuhan.
Suasana tuguran di kapel. (KOMSOS / Bernardus Galuh)
Tuguran mengajak kita berhenti sejenak dari segala kebisingan, bukan sekadar untuk diam, tetapi untuk hadir sepenuhnya. Hadir menemani Tuhan dalam doa, seperti para murid yang diminta berjaga di Taman Getsemani.
Pada malam Tuguran di Paroki Kosambi Baru, setiap wilayah dijadwalkan dalam beberapa sesi doa. Umat datang silih berganti sejak pukul 19.00 hingga larut malam, mengambil bagian dalam suasana hening yang menuntun hati untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta.
Di dalam kapel yang sederhana, lampu-lampu dibuat lebih redup, menciptakan suasana teduh yang membantu umat masuk ke dalam keheningan batin. Di hadapan Sakramen Mahakudus, umat berlutut atau duduk dalam diam, sebagian menundukkan kepala, sebagian lagi memejamkan mata dalam doa pribadi.
Tidak banyak kata yang terucap gumam doa-doa lirih, hembusan napas yang perlahan, serta langkah kaki yang tertata saat umat datang dan pergi membuat momen ini menjadi titik hening di tengah kesibukan aktifitas kita. Di sela-sela keheningan itu, ada pula yang membaca Kitab Suci, merenungkan sengsara Kristus, atau sekadar tinggal diam dalam hadirat-Nya. Semua berlangsung sederhana, namun justru di situlah letak kekuatan-Nya: sebuah perjumpaan yang tidak ramai, tetapi mendalam.
Dalam suasana yang tenang dan sederhana, kita diajak menata kembali hati, mendengarkan suara-Nya yang lembut, dan menyadari bahwa di balik segala kesibukan, selalu ada undangan Tuhan untuk tinggal bersama-Nya—dalam keheningan yang menyembuhkan dan doa yang menguatkan.
Tuguran sendiri adalah tradisi doa berjaga yang dilakukan umat Katolik, khususnya pada malam Kamis Putih setelah Perjamuan Terakhir. Dalam momen ini, umat diajak untuk tinggal bersama Yesus yang sedang berdoa di Taman Getsemani—sebuah peristiwa penuh kesunyian, pergulatan, dan ketaatan kepada kehendak Bapa.
Makna Tuguran berakar pada ajakan Yesus kepada para murid-Nya: “Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Matius 26:38). Ayat ini menjadi panggilan personal bagi setiap umat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi hadir dan setia menemani Tuhan dalam saat-saat tersulit-Nya. Tuguran bukan sekadar berjaga secara fisik, melainkan latihan iman untuk setia dalam doa, bahkan ketika lelah dan kantuk datang.Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku”(M
Sebagaimana para murid yang sempat tertidur, kita pun sering jatuh dalam kelemahan. Namun, Tuguran mengingatkan bahwa Tuhan selalu mengundang kita kembali untuk berjaga bersama-Nya dalam doa, harapan, dan kasih yang setia.