Ibadat Jumat Agung 2026 pukul 18.00 berlangsung dengan tertib, dengan petugas tata ibadat dari Wilayah 14 dan koor dari Wilayah 13. Sejak sebelum ibadat dimulai, umat telah memenuhi gereja hingga meluber ke kapel dan Aula YP 2, menciptakan suasana hening dan khidmat yang khas dalam peringatan wafat Tuhan. Perayaan dibagi ke dalam tiga bagian utama, yakni Liturgi Sabda, Penghormatan Salib, dan Liturgi Ekaristi. Ibadat diawali dengan Doa Malaikat Tuhan, kemudian dipimpin oleh Romo Aloysius Yus Noron, Pr. Sesuai tradisi Jumat Agung, perayaan berlangsung tanpa lagu pembuka maupun ordinarium, sehingga suasana tobat dan permenungan terasa lebih mendalam.
Dalam homilinya, Romo Yus menekankan penderitaan Yesus sebagai teladan. Penderitaan Yesus diterima dengan kasih dan menjadi contoh bagi umat dalam menghadapi kesulitan. Penderitaan Yesus adalah bentuk kasih yang menaklukkan dosa tanpa balas dendam, serta mengajarkan sikap menerima. Ibadat Jumat Agung mengajak umat untuk memperbaiki hidup, menerima kasih, dan menghindari dosa. Kemerdekaan yang diberikan Yesus harus diterima dengan sikap positif untuk menjalani kehidupan yang penuh pengharapan.
Dalam Liturgi Sabda, mazmur tanggapan yang dinyanyikan adalah “Ya Bapa, ke Dalam Tangan-Mu” (PS 820), dilanjutkan dengan aklamasi “Terpujilah Kristus Tuhan” (PS 966). Kisah Sengsara Tuhan Yesus dibawakan dengan khidmat, diselingi nyanyian “Golgota Tempat Tuhanku” (PS 480), “O Anak Domba Allah” (PS 482), dan “O Yesusku” (PS 485). Seluruh lagu tersebut dinyanyikan secara a cappella tanpa iringan piano, sehingga nuansa duka dan permenungan akan sengsara Kristus terasa semakin kuat.
Ritus Penghormatan Salib menjadi puncak perayaan. Salib dihadirkan dengan antifon “Lihat Kayu Salib,” kemudian umat maju satu per satu untuk mencium salib sebagai tanda penghormatan. Prosesi ini diiringi nyanyian “O Yesusku” dan “Salib di Puncak Golgota” (PS 512), yang membantu umat masuk dalam doa pribadi dan kontemplasi.
Pada Liturgi Ekaristi, lagu komuni yang dinyanyikan adalah “Anima Christi” dalam versi bahasa Latin, diikuti oleh “Ave Verum.” Perayaan ditutup tanpa berkat penutup, sebagaimana tradisi Jumat Agung, dan umat meninggalkan gereja dalam suasana hening. Seluruh rangkaian ibadat berlangsung sederhana namun sangat mendalam, mengajak umat merenungkan sengsara dan wafat Kristus sebagai puncak kasih bagi keselamatan manusia.