cover

Kebun yang Kami Lupakan

ad
ad
ad
ad
ad
ad
Beranda

Kebun yang Kami Lupakan

Kebun yang Kami Lupakan

Levina Tabita

4 Mei 2026

Maya baru menyadari kebun belakang rumah itu berubah ketika ia menginjak plastik kresek yang tertutup tanah. Bunyi berderak itu memecah sunyi sore. Dulu, di tempat yang sama, ia dan Raka membangun “rumah-rumahan” dari pot pecah. Papa menanam cabai di sudut pagar, dan Mama merawat bunga kertas yang selalu mekar tanpa diminta. Sekarang, yang tersisa hanya daun kering, botol kosong, dan kursi kayu patah yang miring, seperti kelelahan.
“Ngapain di situ?” suara Raka terdengar dari pintu belakang.
“Lihat kebun,” jawab Maya.
Raka mengangkat bahu. “Sudah lama jadi tempat buang barang.”
Maya tidak menjawab. Ia memungut satu botol plastik, lalu satu lagi. Tangannya kotor, tetapi ia terus bergerak sampai matahari hampir turun. Dari dalam rumah, ia bisa mendengar suara televisi dan bunyi piring. Tidak ada yang memperhatikan.
Minggu berikutnya, pastor di gereja mengajak umat menjalani Prapaskah dengan pertobatan di keluarga dan merawat alam ciptaan. Kalimat itu menempel di kepala Maya. Malamnya, saat makan, ia memberanikan diri.
“Bagaimana kalau kita bersihkan kebun belakang? Buat niat Prapaskah keluarga.”
Mama berhenti menyendok sup. “Mama lagi banyak kerjaan, May.”
Raka langsung menyahut, “Ngapain juga? Paling nanti kotor lagi.”
Papa tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengunyah pelan.
Maya mengangguk, mencoba tersenyum. “Aku mulai sendiri saja.”

Keesokan sore, ia kembali ke kebun. Matahari masih hangat ketika ia memilah plastik dan kaca. Tak lama kemudian, Raka muncul sambil membawa kantong sampah.
“Jangan harap aku rajin,” katanya. “Aku cuma lagi bosan.”
Maya tertawa kecil. “Tidak apa-apa.”
Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Sesekali Raka menemukan benda lama—mobil mainan berkarat, pot kecil dengan nama mereka yang nyaris hilang. Ia membersihkannya dengan ujung kaus.
“Ini dulu kita tanam kacang hijau, kan?” tanya Raka.
“Iya. Kamu tiap pagi cek duluan,” jawab Maya.
Raka tersenyum tipis, lalu kembali memungut sampah.
Hari berikutnya, pagar kayu yang miring tiba-tiba sudah berdiri lebih rapi. Papa terlihat membawa palu, lalu pergi sebelum Maya sempat berbicara. Mama mulai menyimpan sisa sayur di wadah plastik.
“Katanya bisa buat kompos,” ujarnya singkat.

Namun, kebersamaan itu tidak langsung mulus. Suatu sore, ketika mereka hampir selesai membersihkan, Mama mengeluh tentang sampah yang masih menumpuk. Raka membalas dengan nada tinggi. Papa mencoba menenangkan, tetapi justru ikut tersulut ketika Mama menyinggung pekerjaan yang belum ia dapatkan. Maya berdiri di tengah, merasa kebun itu tiba-tiba kembali sunyi, lebih sunyi dari sebelumnya.
Mereka masuk ke rumah. Kantong sampah dibiarkan terbuka. Angin sore meniup daun kering ke tanah yang baru dibersihkan. Malam itu hujan turun lama. Pagi harinya, Maya kembali ke kebun. Ia melihat bagian yang sudah dibersihkan menyerap air dengan baik; tanahnya gelap dan lembap. Sementara itu, di sudut yang masih penuh plastik, air menggenang, bau, dan keruh.
Ia memanggil yang lain. “Lihat ini.”
Papa berdiri paling dekat. Ia menatap tanah cukup lama. “Yang tertutup… airnya tidak bisa masuk,” katanya pelan.
Mama mengangguk. Raka menggeser botol plastik dengan kaki.
“Mungkin kita juga begitu,” lanjut Papa. “Lama tertutup.”
Tidak ada yang menjawab, tetapi mereka mulai bergerak lagi. Kali ini lebih pelan. Raka menanam bibit cabai yang mereka beli dari warung. Mama menanam bunga kecil di tepi pagar. Papa mengaduk kompos dari daun kering. Maya menyiram tanah yang baru diratakan. Tidak ada percakapan panjang, hanya suara air dan tanah yang digemburkan.

Hari-hari menjelang Paskah, mereka menyempatkan diri beberapa menit setiap sore. Terkadang hanya menyiram, terkadang memungut daun. Kebun itu belum rapi, tetapi sudah berubah. Tanahnya lebih lunak, dan warna hijau mulai muncul di sela-sela cokelat.
Sabtu Vigili Paskah, bibit cabai tampak layu. Raka menunduk kecewa. “Sepertinya mati.”
Papa menyentuh tanah. “Mungkin belum kuat.”
Mama membawa air. “Kita siram lagi. Pelan-pelan.”
Mereka berdiri berempat, menyiram bersama. Air meresap tanpa suara.
Pagi Minggu Paskah, Maya membuka pintu belakang lebih dulu. Udara segar menyambutnya. Ia melihat sesuatu yang kecil di dekat batang cabai—tunas baru, hijau muda, rapuh, tetapi tegak. Ia memanggil yang lain.
Raka mendekat, matanya berbinar. “Tumbuh.”
Mama tersenyum, dan Papa mengangguk pelan. Mereka membawa sarapan ke teras belakang. Tidak ada televisi, tidak ada gawai. Hanya piring, teh hangat, dan kebun yang belum sempurna.
“Kita lanjut, ya,” kata Raka pelan. “Jangan cuma Paskah.”
Mama mengangguk. Papa menepuk bahu Raka. Maya memandang tunas kecil itu. Ia tahu kebun mereka masih butuh waktu. Begitu juga keluarga mereka. Tetapi pagi itu, dari tanah yang mereka rawat bersama, sesuatu telah bangkit—pelan, sederhana, dan hidup.

ad
ad
ad
ad