cover

Menghidupkan Kisah Sengsara Kristus Sebagai Refleksi Iman

Beranda

Menghidupkan Kisah Sengsara Kristus Sebagai Refleksi Iman

Menghidupkan Kisah Sengsara Kristus Sebagai Refleksi Iman

Alberta Cailin Kimberly

10 Mei 2026

Jumat (3/4/2026) merupakan hari kewafatan Yesus Kristus, di mana Gereja kita, Paroki Kosambi Baru dari Orang Muda Katolik, mempersembahkan sebuah pertunjukan visualisasi tablo yang berjudul “Anak Manusia” pada jam 8.00 pagi. Dengan cuaca yang sangat cerah, umat dapat berkesempatan untuk menunggu dan menonton penampilan yang disediakan oleh cast dan kru Tablo.

“Sebenarnya makna dari “anak manusia” itu Yesus Kristus datang ke dunia sebagai manusia, tapi sebenarnya Dia diutus oleh Allah Bapa. Tujuan-Nya adalah menyelamatkan manusia dari dosa. Karena dosa itu bikin hubungan manusia sama Allah jadi jauh. Maka dari itu, banyak skenario yang merumuskannya sebagai anak Allah.” Itulah makna yang disampaikan oleh salah satu tim produksi tablo,  Manuela Yosaka de Rosario. 
Suasana saat scene penyaliban Yesus. (KOMSOS / Rudy)

Suasana saat scene penyaliban Yesus. (KOMSOS / Rudy)

Bukan hanya sekadar penampilan yang bertujuan untuk menghibur umat saja, tetapi Tablo memiliki makna yang mendalam. Yesus Kristus yang turun ke dunia sebagai anak manusia, disalibkan dan mati sebagai anak manusia untuk menebus kesalahan manusia, karena cinta Allah yang besar kepada manusia. Tujuan utama dari penampilan tablo ini adalah sebagai media pengenang, penghayat, dan penggambaran kisah sengsara serta pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib melalui visualisasi adegan yang dramatis, serta bertujuan untuk mengunggah kesadaran umat dan mempermudahkan pemahaman pada kisah sengsara Yesus. 
Pada Tablo tahun ini. Saya, Alberta Cailin Kimberly, telah berkesempatan untuk bermain dalam tablo sebagai “Rakyat Jahat”. Saya merasa sangat senang ketika saya dapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam penampilan tablo ini. Walaupun dengan peran saya sebagai orang jahat, justru ini yang membuat saya semakin sadar akan makna dari “manusia”, makhluk Tuhan yang tidak pernah luput dari dosa, kesalahan sehari-hari yang telah kita buat, dan Allah sendiri masih mau memberikan kita kesempatan untuk bertobat melalui penebusan dari Putra-Nya. 
Sepengalaman saya, sebelum kita benar-benar menunjukan penampilan tablo, diadakan setiap hari Selasa, Jumat latihan Tablo rutin, dimana kita tidak hanya dilatih untuk berperan saja, tetapi kita dilatih juga untuk menghayati peran masing-masing, serta disini kita belajar juga dari wafat-Nya. Latihan dilatih oleh sutradara dan panitia tablo lainnya. Kita dilatih untuk mengekspresikan diri sebagai peran yang kita dapati dan juga menghayati betapa sengsara Yesus untuk menebus dosa kita.
Saat hari penampilan tiba, Saya dan cast lainnya tampil dengan apa yang kita siapkan dari latihan berminggu-minggu, dengan cuaca yang sangat panas, Umat yang berbaris menyaksikan penampilan tablo ini. Ada sebagian dari umat yang menangis dan juga ada umat yang sangat antusias untuk menonton. Dengan hasil yang kita sediakan, kami berhasil membuat umat merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus dari visualisasi tablo yang kami siapkan, dengan tujuan yang tercapai, yaitu membuat tablo sebagai sarana penghayatan dan mempermudah umat untuk memahami kisah sengsara-Nya. 
Setelah performa sudah selesai, akhirnya umat memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang telah disediakan berminggu-minggu. Kelelahan dibayar dengan antusiasme umat sudah sangat cukup. Tablo bukanlah hanya performa semata, tetapi juga persembahan untuk Tuhan di hari Jumat Agung ini.
Semua cast & crew berfoto setelah selesai tablo. (KOMSOS / Rudy)

Semua cast & crew berfoto setelah selesai tablo. (KOMSOS / Rudy)

Setelah selesai, semua Cast dan Crew menyapa umat-umat, ada sebagian keluarga mereka, sahabat mereka yang ikut menyaksikan hasil dari kerja keras mereka. Ada Romo Patrick sebagai MC untuk mengantarkan sebuah kata-kata atas apresiasi dari penampilan tersebut.  Akhirnya umat bubar dan tim Cast dan Crew berkumpul dengan tujuan mereka yang tercapai, untuk membuat Umat semakin menghayati kisah Yesus, dan sebagai pengingat bahwa kita manusia adalah pendosa yang tidak pernah lepas dari dosa kecuali dengan pengampunan Allah.