Minggu Palma: Hosana yang Bergema dalam Langkah Iman
Minggu Palma: Hosana yang Bergema dalam Langkah Iman
Adityo Nugroho
10 Mei 2026
Minggu Palma pukul 09.00 pagi di Gereja Santo Matias Rasul, Paroki Kosambi Baru, dibuka dengan perarakan daun palma yang sarat makna. Sejak pagi, umat telah berkumpul di lapangan gereja dengan daun palma di tangan. Di bawah langit yang cerah dan sinar matahari yang mulai terasa hangat, iring-iringan dimulai dengan nyanyian “Hosana, Hosana” yang menggema, menyatukan langkah dan hati umat dalam satu perayaan iman.
Perarakan bergerak perlahan, keluar dari lapangan gereja menuju area parkiran belakang, lalu mengitari jalan Kosambi sebelum kembali menuju pintu utama gereja. Sepanjang perjalanan, umat berjalan beriringan: anak-anak, orang tua, hingga lansia, semuanya ambil bagian dalam suasana yang hidup namun tetap khidmat. Meski cuaca cukup terik, semangat umat tidak surut. Justru, wajah-wajah penuh sukacita tampak jelas, seolah setiap langkah menjadi ungkapan syukur menyambut Sang Raja Damai.
Suasana misa saat pembacaan Passio. (KOMSOS / David)
Momen yang paling mencuri perhatian terjadi di bagian akhir arak-arakan. Romo Patrick tampak menunggangi seekor kuda putih, menyusuri jalan kompleks dengan penuh wibawa. Kehadirannya menghadirkan gambaran simbolis akan Yesus yang memasuki Yerusalem—disambut dengan sorak-sorai dan pujian. Umat mengiringi dengan penuh hormat, menghantarkan Romo kembali ke gereja untuk memimpin perayaan Ekaristi.
Di balik kemeriahan itu, terselip momen haru yang tak terlupakan. Di tengah panas dan perjalanan yang cukup panjang, terlihat seorang ibu yang mulai kelelahan. Namun, ia tetap bertahan, tidak ingin meninggalkan arak-arakan sebelum selesai. Dengan penuh kasih, sang suami setia mendampinginya, bahkan membopongnya agar tetap dapat mengikuti perarakan hingga tuntas. Sebuah potret sederhana, namun kuat tentang cinta, kesetiaan, dan iman yang berjalan bersama.
Suasana umat yang mengikuti misa minggu palma. (KOMSOS/David)
Minggu Palma bukan hanya perayaan simbolik, tetapi juga refleksi perjalanan hidup beriman. Dari sorak “Hosana” menuju Jalan Salib, umat diajak untuk tidak hanya bersukacita, tetapi juga setia dalam setiap proses. Dan pagi itu, di Kosambi Baru, iman itu tidak hanya diucapkan tetapi dijalani, langkah demi langkah.