Setiap kali kita merayakan Paskah, kita merayakan kemenangan hidup atas kematian. Yesus bangkit, dan melalui kebangkitan-Nya, kita semua diberi harapan baru. Seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 10:10, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Namun, pertanyaannya: apakah kita sungguh hidup dalam kelimpahan itu? Ataukah kita masih hidup dengan cara lama yang justru merusak kehidupan?
Tema Paskah Keuskupan Agung Jakarta tahun ini mengajak kita masuk lebih dalam: “Pertobatan untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama.” Tema ini mengingatkan bahwa kebangkitan Kristus harus nyata, bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam cara kita hidup—termasuk dalam cara kita memperlakukan bumi.
Sejak awal, Tuhan telah mempercayakan bumi kepada manusia. Dalam Kitab Kejadian 2:15 tertulis: “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Jika kita merenungkan perikop ini, kita disadarkan bahwa manusia dipanggil bukan untuk mengeksploitasi, melainkan untuk mengusahakan dan memelihara.
Namun, kenyataannya, kita sering kali gagal. Kita hidup seolah-olah bumi ini milik kita sendiri. Kita membuang sampah sembarangan, hidup boros, dan kurang peduli. Tanpa sadar, kita turut merusak ciptaan Tuhan.
Di sinilah kita diajak belajar dari lingkungan tempat kita hidup—bahwa alam adalah rumah bersama, bukan sekadar tempat tinggal. Ketika kita merusak alam, sesungguhnya kita juga merusak relasi kita dengan Tuhan.
(Sumber Image: AI Generated Image via ChatGPT)
Refleksi Paskah adalah panggilan untuk bertobat. Seperti yang diwartakan dalam Kisah Para Rasul 3:19: “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.”
Pertobatan yang sejati bukan hanya soal doa, tetapi perubahan hidup yang nyata.
Dalam konteks hari ini, kita diajak pada pertobatan ekologis. Artinya, kita meninggalkan cara hidup yang merusak dan mulai hidup dengan lebih peduli.
Tidak harus dimulai dari hal besar. Kita dapat memulainya dari langkah-langkah sederhana:menghabiskan makanan dan tidak membuangnya; jika tidak habis, dapat dibawa pulangtidak membuang sampah sembaranganmengurangi penggunaan plastikmenghemat air dan listrikmenjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar
Hal-hal kecil ini adalah wujud nyata iman kita. Sebab, seperti yang dikatakan dalam Surat Yakobus 2:17, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Mengapa hal ini penting? Karena bumi adalah rumah kita bersama. Kerusakan alam tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada manusia, terutama mereka yang kecil dan lemah.
Pertanyaannya: apakah kita mau? Apakah kita sungguh mau bangkit bersama Kristus—dalam cara hidup yang baru? Cara hidup yang lebih sederhana, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab?
Mari kita tidak berhenti pada perayaan Paskah. Mari kita wujudkan Paskah dalam kehidupan sehari-hari. Kita wartakan kebangkitan Kristus melalui tindakan nyata: ketika kita mulai menjaga, merawat, dan mencintai bumi ini.
Karena pada akhirnya, merawat bumi bukan hanya soal lingkungan. Ini adalah soal iman. Ini adalah soal kasih. Ini adalah soal rasa memiliki. Ini adalah tentang bagaimana kita menjawab cinta Tuhan dalam hidup kita.